Gunung Itu Tetap Tinggi, Bendera Kita Juga Masih Berkibar (Sebuah Catatan Tentang Ibu Soed)

(Bagian I)

Di hari lahir saya yang ke empat belas, (alm.) ayah menghadiahkan sebuah buku lawas berjudul Interview with History yang ditulis oleh jurnalis legendaris, Oriana Fallaci. Berisikan wawancara Fallaci dengan 14 tokoh yang jadi penentu arah sejarah dunia pada periode 60’an-70’an, mulai dari Henry Kissinger sampai dengan musuh bebuyutannya, Jenderal Giap. Sejak itu, saya pun bermimpi menjadi seorang jurnalis. Impian itu pula yang mengantar saya ke jurusan ilmu komunikasi massa di Universitas Indonesia. Bahwa hari ini saya justru jadi pembuat film itu cerita lain lagi, tapi ‘akibat’ dari belajar di UI itulah saya harus magang di sebuah media cetak sebagai persyaratan perolehan nilai salah satu mata kuliah.

Setelah sekian bulan magang dengan beragam penugasan sesuai petunjuk editor, belum ada satu tulisan pun dengan by line atas nama saya. Kalaupun ‘nyaris’, tulisan pendek draft ke sekian hasil perjuangan saya itu tergusur oleh materi yang lebih penting: iklan kematian seorang pengusaha. Sampai suatu pagi, editor saya bertanya dengan mimik serius, “Kau bisa nyanyi?” Saya panik, “Enggak bisa Bang!” Editor saya cengengesan,”Siapa yang suruh kau nyanyi? Kau ikut rapat redaksi kemarin kan? Edisi hari anak-anak? Reporter X sakit, jadi kau yang wawancara Ibu Soed! Coba kau sebut satu judul karangannya?” Saya jawab dengan yakin,“Naik Naik ke Puncak Gunung!” Editor saya mengangguk,”Betul! Kalau kau jawab Begadang itu Rhoma Irama! Berangkat kau sekarang!”

Berbekal selembar keterangan latar belakang mengenai ibu Soed yang diberikan oleh editor saya, saya pun menuju kediaman ibu Soed. Saya sadar persiapan wawancara dengan beliau sungguh minim, mengingat ini tugas dadakan. Sementara, di sisi lain saya sadar betul wawancara itu adalah peluang saya untuk memperoleh tulisan yang pasti akan dicetak dengan nama saya selaku penulisnya. Dijelaskan di lembaran keterangan, nama asli ibu Soed adalah Saridjah Bintang Soedibjo. Beliau tercatat telah menciptakan hampir 500 judul lagu anak-anak. Pemicunya antara lain karena ibu Soed prihatin melihat anak-anak Indonesia yang kurang gembira akibat kondisi negara yang terus dilanda beragam kericuhan pada kisaran 1925-1941. Saya menandai bagian tersebut sebagai ‘informasi menarik’, karena tak pernah terpikir oleh saya sebelumnya di kala sebuah negara sedang berada dalam keadaan gundah adakah yang sempat memperhatikan anak-anak yang tentunya ikut terdampak? Rupanya peran inilah yang diambil ibu Soed di masa itu. Kemudian, dijelaskan pula sosok ibu Soed yang aktif di masa pergerakan dan aktifitasnya selaku pengajar/pendidik di sejumlah sekolah. Di antaranya ibu Soed pernah menjadi guru musik HIS Petojo.

Saya mencoba membayangkan bagaimana wawancara itu akan berlangsung, apa yang terjadi bila arah percakapan akan menyinggung soal teori musik? Sebagian dari masa kecil saya diisi dengan kejengkelan terhadap guru piano yang full aturan plus hukuman akibat kemalasan saya berlatih dengan panduan buku Schmidt yang menurut saya amat membosankan. Saya tidak yakin ibu Soed selaku mantan guru musik akan tertarik bicara pada wartawan pemula dengan reputasi suka ‘melawan’ guru piano. Karena itu, saya menetapkan strategi untuk ‘menggali’ soal pilihan ibu Soed menciptakan lagu untuk anak-anak. Beberapa lagu ciptaan beliau terngiang di kepala saya. Naik Naik ke Puncak Gunung yang diakuinya tinggi sekali, jauh berbeda dari penggambaran yang meromantisir betapa sulitnya perjuangan untuk mencapai puncak gunung versi pecinta alam. Kesan yang ditimbulkan lagu ini justru santai dan menyejukkan hati. Lalu saya mengingat Lihat Kebunku, kok sederhana banget ya? Batin saya mulai sok tahu. Bayangkan, sosok si penyanyi lagu ini mengajak pendengar untuk melihat kondisi kebun di rumahnya. Konon kebun itu penuh dengan bunga aneka warna dan jenis yang semuanya indah, lalu? Selesai. Lalu salah satu hit ikonik ibu Soed, Tik Tik Bunyi Hujan, bicara soal suara hujan menyentuh genting akibat air yang turun dan menjadikan segalanya basah. Juga sederhana sekali kan? Kenapa harus sesederhana itu? Dan kata kunci ‘sederhana’ itupun menjadi pilihan saya untuk berbincang dengan ibu Soed.

Sejurus kemudian saya duduk di beranda rumah ibu Soed yang sudah menyiapkan teh dan panganan kecil untuk percakapan kami siang itu. Seperti rencana semula, saya mencoba mengulik soal kesederhanaan lagu-lagu beliau. “Sekarang ibu yang tanya Prima, ibunya Prima tanam apa di kebun?” ibu Soed menatap saya sambil tersenyum sabar. “Aduh, apa ya? Kok saya malah lupa,” jawab saya canggung. Aneh, saya sungguh-sungguh tak ingat apa saja yang ditanam di halaman rumah orang tua saya. Kali ini ibu Soed tersenyum lebih lebar,”Justru itu maksud ibu, wajar sekali kalau kita cenderung lupa memperhatikan yang ada di dekat kita. Padahal, yang di sekitar kita itulah yang penting kita amati.” Saya terpana.

(Bersambung ke bagian-2)

oleh Prima Rusdi, penulis skenario film

 

Dukung album Popzzle, Tribute to Ibu Soed, dan berikan kesempatan anak-anak kita mendengarkan lagu sesuai usia mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s