Gunung Itu Tetap Tinggi, Bendera Kita Juga Masih Berkibar (Sebuah Catatan Tentang Ibu Soed)


(Bagian 2 – selesai)

Ibu Soed bertanya lagi, “Tadi, waktu ke sini, Prima ingat sempat lihat apa saja di jalan?” Saya menjawab, “Banyak, tapi engga ingat betul bu. Maksudnya apa ada yang spesifik atau tidak.” Ibu Soed mengangguk, “Itu biasa, kalau kita rasa sudah jelas mau kemana, kita sering jadi tidak mengamati perjalanannya karena lebih fokus ke tujuannya kan?” Saya mengangguk setuju. Di titik ini saya tahu betul narasumber saya jelas ada di kelas ‘berat’ kalau tidak mau dikatakan sudah moksa atau satu angkatan dengan tokoh fiktif pujaan saya, Yoda. “Ibu kepingin sekali anak-anak Indonesia itu selalu belajar dari hal-hal yang dekat sekali dengan kehidupan mereka sehari-hari, entah itu hujan, atau kupu-kupu yang kalau tidak kita perhatikan mungkin sulit kita pahami di mana lucunya, atau ketika jalan-jalan mendaki gunung daripada dibebani target karena puncak gunungnya masih jauh, kan lebih baik menikmati perjalanannya? Toh, lama-lama akan sampai?” Papar ibu Soed lagi. Saya sudah kehilangan niat membombardir beliau dengan rentetan pertanyaan, narasumber saya itu dengan murah hati dan suka rela justru mengundang saya ke alam pikirnya yang sedemikian kaya dan seolah tidak bertepi.

Di menit-menit berikutnya ibu Soed mengisahkan impiannya melihat anak-anak Indonesia bisa menyanyikan lagu dalam bahasa Indonesia dengan hati gembira dan bersemangat. “Jadi, ibu akan pilihkan kata-kata yang bisa dinyanyikan dengan jelas, mudah dipahami dan mudah diingat oleh semua anak Indonesia. Bisa dinyanyikan sendirian, juga bisa dinyanyikan sama-sama. Karena lagu ibu itu memang untuk dinyanyikan siapa saja, bukan hanya oleh penyanyi. Lagu yang dibuat untuk penyanyi hanya bisa dinyanyikan sedikit orang, yang lainnya (yang tidak bisa menyanyi-ed.) hanya bisa ikut menikmati,” jelas beliau lagi. Mengingat kembali percakapan saat itu, saya menangkap maksud ibu Soed untuk menjelaskan sejumlah pemikiran konseptual seperti ‘kebersamaan’, ‘nilai’, ‘kesetaraan’, ‘keragaman’, ‘multi-kulturalisme’, ‘patriotisme’ tanpa sekalipun beliau menggunakan istilah-istilah hebat itu. Jiwa pendidik di dalam diri ibu Soed lebih ingin memastikan wartawan magang/mahasiswa seperti saya memahami inti dari pemikiran beliau untuk kemudian menyarikannya ke dalam bahasa saya. Berapa sering seorang ‘anak magang’ diberikan ruang seluas apa yang pernah diberikan sosok ibu Soed kepada saya? Dan percayalah saya cukup bodoh dan perlu waktu amat panjang untuk tiba di tingkatan apresiasi terhadap sikap yang diabadikan melalui karya-karya ibu Soed.

Beberapa tahun setelah percakapan tersebut, saya mendapat kabar beliau berpulang. Di kisaran kurun waktu yang sama, saya baru menyadari bahwa lagu Naik Becak diciptakan ibu Soed di 1942. Sebuah tahun yang muram akibat dominasi Jepang di Asia Tenggara, di tahun itu pula pemerintahan Hindia Belanda menyerah pada Jepang. Sadar atau tidak, ibu Soed memilih menawarkan optimisme pada anak-anak Indonesia dengan bertamasya naik becak, yang digambarkannya sebagai ‘kereta tak berkuda’. Bahkan keganasan perang pun rupanya tak boleh merampas keriangan dunia anak-anak versi ibu Soed. Pilihan cara pandang ibu Soed yang memihak pada dunia anak-anak di tengah perang/tekanan ini jauh lebih dahulu dari apa yang dilakukan Roberto Benigni di film Life is Beautiful (1997). Ibu Soed yakin bahwa keceriaan anak-anak Indonesia adalah modal untuk bisa tetap optimis dan mampu melakukan beragam hal positif, sejak bangun tidur di pagi hari-silakan simak cuplikan syair Pergi Belajar,“O Ibu dan Ayah selamat pagi, ku pergi belajar sampai kan nanti..” Keceriaan pula yang menurutnya membuat sosok anak bisa menghargai diri sendiri dan orang lain, termasuk orang tua, guru dan kawan-kawannya. Ibu Soed menempatkan sosok setiap anak Indonesia sebagai bagian dari lingkungan sosial yang lebih besar, bisa sebagai tokoh anak dari sebuah keluarga, atau kawan, atau sosok yang harus mencapai tujuan dengan berinteraksi dengan orang lain seperti pengemudi becak.

Sosok ‘kawan’ juga penting bagi ibu Soed seperti ketika beliau mengguratkan lagu Berkibarlah Benderaku. Lagu ini terinspirasi oleh perjuangan salah satu kawan ibu Soed, (alm.) Joesoef Ronodipoero kala mempertahankan kibaran bendera merah putih di gedung stasiun Radio Republik Indonesia pada agresi Belanda pertama di 1947. Ibu Soed juga memainkan biola mengiringi pagelaran perdana lagu Indonesia Raya ciptaan sahabat beliau, W.R. Soepratman di kongres Pemuda pertama di 1928. Bila kita renungkan kembali, sosok seorang perempuan yang kelak kita kenal sebagai ‘ibu Soed’ ini, alangkah mudah baginya untuk terperangkap di dalam zaman yang memungkinkannya ‘sekedar’ ikut-ikutan berkarya melalui seruan-seruan propaganda atau melakoni peran ‘just the girl among the guys’ sesuai dengan kondisi saat itu, dan juga karena pergaulannya dengan sejumlah musisi besar seperti Cornel Simandjuntak, Ismail Marzuki, W.R. Soepratman. Jelas ia mendukung kawan-kawannya membunyikan genderang perang, namun ibu Soed memastikan di lini ‘belakang’, di pekarangan rumah-rumah keluarga Indonesia, anak-anak Indonesia senantiasa ceria, bebas dari rasa takut, dan menjadi pandai dari kejelian mengamati hal-hal di sekitar mereka, serta tak pernah melupakan tempat kaki-kaki mereka berpijak seperti di Desaku atau juga Tanah Airku yang sanggup membuat kita bergidik setiap kali mendengar lantunan lagu ini. Pilihan sikap ibu Soed telah menjadikan anak-anak Indonesia, termasuk Anda dan saya-punya suara yang setara.

Hari ini, sekian tahun setelah kepergian beliau, sudah sepantasnya kita ikut mengurus warisan tak ternilai dari ibu Soed bagi anak-anak Indonesia. Kenapa? Karena, ada sisi dan kualitas terbaik dari kita (baca: orang Indonesia) seperti sederhana, riang hati, bersemangat pantang menyerah, serta bisa menerima dan menghargai perbedaan, yang senantiasa terangkum di dalam lagu-lagu ciptaan ibu Soed yang bisa dengan mudah kita pahami dan praktikkan dengan ikhlas tanpa kening berkerut apalagi rasa terpaksa.

oleh Prima Rusdi, penulis skenario film

 

Dukung album Popzzle, Tribute to Ibu Soed, dan berikan kesempatan anak-anak kita mendengarkan lagu sesuai usia mereka.

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s