Kenapa Crowdfunding Bisa Berhasil?

WJD

Tulisan ini tidak ingin memberikan tips-tips bagaimana membuat kampanye kamu berhasil. Hal itu lebih baik saya jelaskan melalui tulisan yang berbeda. Tapi tulisan ini ingin mengutip hasil beberapa penelitian, yang menjelaskan apa saja dinamika sosial yang terjadi, yang membuat sebuah kampanye crowdfunding bisa berjalan baik. Apa yang saya tuliskan di sini berdasarkan beberapa artikel, buku dan penelitian yang telah saya baca sejauh ini. Itulah sebabnya tulisan ini tidak bersifat “mati”. Di kemudian hari mungkin muncul artikel baru, buku baru, bahkan teori baru mengenai hal ini.

Ada beberapa dinamika sosial yang terjadi, yang menentukan apakah sebuah kampanye crowdfunding akan berhasil atau tidak. Dua di antaranya: social proof, dan social ties.

Social Proof, atau disebut juga informal social influence adalah sebuah fenomena psikologis dimana orang melakukan sesuatu berdasarkan bukti apa yang dilakukan orang lain di situasi yang sama. Ketika manusia dihadapkan pada sebuah situasi, maka ia memiliki kecenderungan untuk melakukan apa yang telah dilakukan orang lain. Konsep ini dibahas oleh Robert Cialdini dalam bukunya yang berjudul Influence: The Psychology of Persuasion. Informasi lebih lanjut mengenai buku ini ada di sini.

Dalam tulisan ini disebutkan bahwa kampanye crowdfunding yang telah mencapai 20% targetnya, maka ada kemungkinan 82% kampanyenya akan berhasil. Dan ketika telah mencapai 30%, maka kemungkinan itu menjadi 98%. Itulah sebabnya, tulisan yang sama menyarankan setiap kampanye crowdfunding sebaiknya mengumpulkan komitmen donasi sampai 25-30% SEBELUM meluncurkan kampanye crowdfunding-nya.

Social Ties yang saya maksudkan di sini mengacu kepada hasil penelitan Ethan Mollick terhadap sekitar 55.000 kampanye crowdfunding, baik yang berhasil mencapai target dananya, maupun yang gagal. Berdasarkan penelitian yang ia lakukan pada bulan Juli 2012, ia menemukan bahwa facebook memainkan peranan penting dalam kesuksesan sebuah kampanye crowdfunding. Ia menemukan, bahwa facebook menjadi media sosial utama, dimana:

If the project sponsor has 10 friends: 9% likelihood. If 100: 20%. If 1000: 40%

Apa yang dimaksud sebagai project sponsor di sini adalah para donatur dari kampanye tersebut. Mollick menemukan bahwa semakin banyak jumlah teman yang dimiliki oleh si donatur di media sosialnya, semakin besar kemungkinan bagi kampanye tersebut untuk berhasil. Ini tentunya dengan asumsi donatur-donatur tersebut lalu menyebarkan berita bahwa mereka berdonasi untuk sebuah proyek crowdfunding di media sosialnya. Mau baca hasil penelitiannya? Silahkan baca di sini.

Ada satu dinamika sosial lainnya yang juga menarik untuk kita pelajari, untuk lebih memahami kenapa ada kampanye crowdfunding yang berhasil dan ada yang tidak. Salah satunya adalah konsep yang ditemukan oleh Mark Granovetter, namun lalu dipopulerkan oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya yang terkenal: The Tipping Point.

Itulah beberapa dinamika sosial yang ditemukan terjadi dalam sebuah kampanye crowdfunding. Jika ada beberapa update terhadap hasil penelitian yang saya cantumkan di atas, mohon koreksinya ya. 🙂

Nah, jadi kita sudah tahu langkah pertama sebelum crowdfundingbagaimana menemukan crowd kita, dan kita sudah tahu dinamika sosial apa saja yang terjadi. Dengan informasi ini, kita bisa menyiapkan rencana yang lebih detail tentang bagaimana melakukan kampanye crowdfunding kita. Nanti ini akan saya ceritakan di tulisan berikutnya ya. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s