Author: dondiwujudkan

Kontribusi Crowd Dalam Pemilu

Oleh: Dondi Hananto
crowdsourcing pemilu

Bagi Anda pembaca blog wujudkan.com mungkin sudah tidak asing dengan istilah crowdfunding. Ya, Wujudkan.com adalah salah satu situs crowdfunding pertama di Indonesia di mana pemilik proyek kreatif atau sosial bisa mengajak crowd-nya untuk membantu mewujudkan proyek tersebut melalui kontribusi dana (funding). Pengertian crowdfunding sendiri lebih sering digunakan untuk proses kontribusi dana beramai-ramai yang secara khusus didukung oleh bantuan teknologi dan media sosial.

Tapi tahukah Anda bahwa crowdfunding adalah hanya satu bagian dari fenomena yang disebut crowdsourcing? Keduanya menggunakan kata ‘crowd” yang mengindikasikan keterlibatan masyarakat luas bukan hanya 1-2 orang saja. Keduanya sangat terbantu dengan kemajuan teknologi terutama internet. Makin luasnya penggunaan media sosial juga semakin mempermudah penyebaran informasi mengenai proyek yang ada di situs crowdsourcing dan crowdfunding.

Kali ini saya ingin membahas mengenai fenomena crowdsourcing yang sangat kental terasa pada pemilu presiden lalu. Saya melihat segala jenis crowdsourcing terjadi di sana, sesuatu fenomena yang sangat jauh berbeda dibanding pemilu presiden 5 tahun yang lalu. Hal ini cukup banyak terjadi dalam pemilu kemarin. Semakin besarnya kesadaran tentang hak suara membuat banyak orang yang merasa tergerak untuk tidak sekedar menggunakan hak pilihnya tetapi juga mengajak orang lain untuk memilih. Ada yang sekedar mengajak untuk memilih dan tetap menjaga netralitas, tetapi tentu banyak juga yang mengajak memilih salah satu pihak.

Kombinasi dari semangat relawan dan kemajuan teknologi memungkinkan sebuah kampanye yang kental bernuansa crowdsourcing, yang melibatkan segala kelompok, bukan hanya para kader partai saja.

Jenis pertama crowdsourcing yang adalah menjaring ide desain dari crowd. Secara pribadi saya dan beberapa rekan pernah mencoba hal ini pada saat ingin mendesain logo perusahaan kami. Yang kami lakukan adalah pergi ke sebuah situs crowdsourcing  desain dan membuat proyek di sana. Kisi-kisi desain yang kami inginkan dideskripsikan (warna, gambar, nuansa, dll) dan kami menetapkan berapa biaya yang kami alokasikan untuk desain ini. Tidak kami duga, dalam 48 jam terkumpul hampir 200 opsi desain logo sesuai kisi-kisi kami, sehingga kami tinggal memilih opsi mana yang paling kami sukai.

Menjelang Pemilu kemarin, begitu banyak relawan yang membantu ‘menerjemahkan’ visi dan misi para capres dari dokumen tebal yang mungkin membosankan untuk dibaca menjadi infografik yang menarik dan mudah dimengerti. Infografik dan meme ini lalu disebarkan dengan cepat melalui media sosial seperti Facebook, twitter, Path dan lainnya.

Salah satu contoh desain yang muncul secara sendirinya oleh relawan adalah gambar ‘seri Tintin’ dari capres Jokowi. Karikatur seri ini dibuat oleh Hari Prast dan Yoga Adhitrisna. Gambar-gambar ini menyampaikan kepada publik mengenai kebiasaan ‘blusukan’ Jokowi dan kedekatannya dengan rakyat. Ini beberapa contohnya

jokowi tintin

Tentu juga banyak lagi desain poster, meme atau infografik untuk kedua pasang capres yang mungkin sudah Anda lihat ketika masa kampanye kemarin. Selain karya kreatif visual, masa kampanye kemarin juga diisi oleh sumbangan lagu tema kampanye oleh relawan kedua belah pihak. Dari pihak Prabowo ada lagu yang ibawakan Ahmad Dhani dengan videonya yang kontroversial, sementara dari pihak Jokowi juga ada beberapa lagu yang dibuat oleh para seniman relawannya. Yang paling banyak terdengar mungkin adallah lagu ‘Salam Dua Jari’ karya Slank dan ‘Bersatu Padu’ karya rapper Yogya, Marjuki Mohammad alias Kill The DJ.

Karya-karya visual dan lagu di atas adalah contoh hasil crowdsourdcing desain dan karya, tipe pertama dari crowdsourcing di mana publik bisa berkontribusi memberikan sebuah karya dengan satu tema yang sama.

Model crowdsourcing kedua adalah membagi pekerjaan yang berjumlah banyak menjadi pekerjaan kecil-kecil yang bisa dilakukan oleh siapa saja (microtask). Dari kacamata saya, Pemilu kemarin adalah salah satu Pemilu yang paling terbuka karena KPU memutuskan untuk membuka data formulir rekap tiap TPS (formulir C3) yang sudah dipindai (scan) ke situs resminya. Hal ini memungkinkan siapapun untuk mengakses situs resmi KPU dan melihat hasil pemungutan suara di tiap TPS.

Namun kesulitannya adalah melakukan rekap total dari data ini karena hanya tersedia dalam bentuk gambar (hasil scan). Sekelompok WNI yang bekerja di luar negeri memutuskan untuk membuat website yang diberi nama kawalpemilu.org. Melalui website ini, siapapun bisa menjadi relawan untuk menginput hasil pemungutan suara dari semua TPS yang pada akhirnya dapat dijumlahkan menjadi perolehan suara nasional. Banyak orang yang peduli kepada hasil Pemilu mengakses situs ini dan membantu proses penginputan. Seorang relawan boleh saja hanya menginput hasil dari 1-2 TPS tetapi banyak yang juga mendedikasikan waktunya untuk menginput hasil dari banyak TPS. Pada akhirnya, hasil rekap versi kawalpemilu.org tidak jauh berbeda dengan hasil rekap resmi versi KPU. Hal ini menjadikan situs kawalpemilu menjadi sebuah mekanisme kontrol dari proses perhitungan suara di KPU. Kawalpemilu adalah sebuah contoh dari crowdsourcing model kedua: pembagian pekerjaan atau mocrotask.

Tipe ketiga crowdsourcing yang sudah tidak asing lagi adalah crowdfunding atau pengumpulan dana. Pengumpulan dana dari simpatisan publik pendukung dilakukan oleh kedua capres di masa kampanye kemarin. Sesuai dengan spirit crowdfunding, pertanggungjawaban hasil pengumpulan dana ini dilakukan secara terbuka. Kedua belah pihak wajib melaporkan sumber dana kampanye kepada KPU. Siapapun yang tergerak untuk membantu bisa menyumbangkan dananya kepada rekening kampanye yang dimiliki oleh kedua capres. Hasilnya, masing-masing capres berhasil mengumpulkan dana lebih dari 100 milyar rupiah!

Bagi saya pribadi, adanya crowdsourcing pada Pemilu kemarin menunjukkan semakin besar kepedulian masyarakat kepada masa depan negara ini. Jutaan relawan ikut terlibat di semua proses dari kampanye hingga pasca pemungutan suara. Tentu ini menimbulkan optimism tersendiri bahwa jutaan masyarakat ini juga akan terlibat untuk memperbaiki keadaan dan tidak hanya diam saja. Dan yang lebih menggembirakan lagi, contoh-contoh di atas sangat terbantu karen keberadaan teknologi, baik dari sisi prosesnya seperti kawalpemilu, maupun penyebaran informasi melalui media sosial. Inilah bukti bahwa teknologi memang seperti pisau. Di tangan yang benar, ia akan sangat bermanfaat, tapi di tangan yang salah ia bisa juga digunakan untuk kegiatan yang negatif. Namun tugas pemerintah tetap sama, yaitu memperbaiki infrastruktur teknologi dan mendorong penggunaan yang positif, dan bukannya malah terlalu berfokus ke yang negatif saja.

Mari bersama-sama kita jaga spirit gotong royong 2.0 ini melalui crowdsourcing. Merdeka!

Disclaimer: penulis secara terbuka mendukung salah satu capres sehingga tulisan ini mungkin dirasa berat sebelah. Semoga pembaca tidak kehilangan ide utama yaitu besarnya peran crowdsourcing pada proses Pemilu dan tidak hanya memikirkan dukungan politik. It’s over. Let’s move on 🙂

Kolaborasi Untuk Karya

Salah satu manfaat utama dari perkembangan teknologi adalah memudahkan komunikasi. Berkat teknologi, semakin mudah untuk berbagi pikiran dan gagasan kita kepada orang lain. Bahkan kepada orang yang tidak kita kenal sekalipun. Berkat teknologi pula kita dengan mudah bisa menemukan orang-orang yang memiliki ketertarikan atau kesukaan yang sama terhadap sesuatu. Salah satu manfaat bertemu (walaupun secara virtual) dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan yang sama adalah banyaknya peluang baru untuk berkolaborasi dengan mereka.

Hasil dari kolaborasi adalah karya yang lebih ‘kaya’. Tidak hanya dihasilkan oleh satu orang atau satu kelompok, sebuah karya kolaborasi adalah hasil kerja banyak orang, atau banyak kelompok. Tentu harapannya adalah ide yang muncul lebih banyak karena lebih banyak pihak yang ikut memikirkan proses pengembangan karya tersebut.

Jika Anda memiliki ide untuk membuat sebuah karya, Anda tidak perlu melakukan semuanya sendiri untuk menghasilkan karya tersebut. Cobalah memikirkan sumber daya apa saja yang diperlukan supaya proyek Anda bisa terwujud. Sumber daya yang dibutuhkan bisa berupa ide atau pikiran (mungkin tambahan ide untuk mempertajam ide awal Anda). Gunakanlah media sosial untuk mencari orang yang tertarik untuk berkolaborasi dan menyumbangkan ide dan pikirannya. Media sosial mempermudah kita untuk berkenalan dengan orang baru dan berbagi ide.

Sumber daya berikut yang mungkin Anda butuhkan adalah skill tertentu. Karena tidak mungkin kita mengerjakan semuanya sendiri. Kembangkanlah network Anda untuk mulai mengenal orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda dengan Anda. Semakin luas jaringan kita, semakin mempermudah saat kita butuh bantuan untuk mengerjakan sebuah proyek dan menghasilkan karya.

Beberapa proyek membutuhkan dana untuk bisa diwujudkan. Tetapi dengan spirit kolaborasi, terkadang dana yang dibutuhkan bisa diminimalisir. Contohnya, jika membutuhkan kendaraan untuk mendukung sebuah kegiatan, kita bisa mencari dana untuk menyewa kendaraan tersebut, atau mencari teman yang memiliki kendaraan yang bisa dipinjamkan.

Jika memang dana yang dibutuhkan dan tidak bisa digantikan, tentunya metode crowdfunding melalui wujudkan.com menjadi salah satu pilihan. Tentu sebelum memulai penggalangan dana (funding), Anda harus membangun dahulu crowd Anda, seperti yang dibicarakan di artikel ini: Temukan Crowd-mu.

Selamat berkolaborasi dan berkarya!

Menggalang Sumber Daya = Membangun Komunitas

sympathy circle
(gambar ilustrasi oleh user Flickr ChristopherA)

Sejak adanya Wujudkan 2 tahun lalu, saya menjadi lebih sering memperhatikan bagaimana cara berbagai organisasi menggalang sumber daya (bukan sekedar dana). Ada beberapa organisasi/gerakan yang menurut saya melakukannya dengan sangat baik dan hal ini tentu menjadi pembelajaran juga bagi saya. Saat semua orang dibombardir dengan arus informasi yang deras, tentu makin sulit untuk mendapat perhatian dari publik. Bahkan mereka yang mendapat perhatian pun belum tentu berhasil menggalang sumber daya yang dibutuhkan. Simpati belum tentu menjadi solusi.

Ada beberapa hal yang saya lihat menjadi faktor penting bagi suksesnya sebuah organisasi atau gerakan menggalang sumber daya yang dibutuhkan. Yang pertama tentu adalah kreativitas dalam merancang proyeknya. Proyek yang kreatif akan menarik perhatian orang untuk mencari tahu lebih jauh tentang proyek tersebut. Membuat film dokumenter tentang keindahan alam Indonesia? Mungkin ada ribuan orang lain di Indonesia yang berpikiran sama. Tetapi apa yang dilakukan oleh para pembuat film Epic Java sangat memukau sehingga ramai dibicarakan dan sempat menjadi ‘hot thread’ di forum Kaskus. Hal ini bahkan sudah dilakukan sebelum mereka menggalang dana untuk finishing film tersebut. Walhasil mereka sudah memiliki basis penggemar atau simpatisan yang banyak. Dan para simpatisan ini benar-benar mencintai proyeknya hingga pada saat tim Epic Java menggalang dana, mereka langsung mendukung dengan dana dan hal lain.

Memiliki simpatisan, atau penggemar, atau fans, atau apalah sebutan lainnya sangat penting. Mereka menjadi sebuah komunitas, tanpa harus mengenal satu dengan yang lain. Mereka memiliki satu kesamaan: ketertarikan dan kesukaan terhadap sesuatu. Sebenarnya tidak sekedar berhenti di situ saja. Di jaman Facebook ini, begitu mudahnya orang memberi ‘jempol’ dengan mengklik tombol ‘Like’. Tetapi sekedar mengumpulkan ‘Likes’ bukan berarti komunitas sudah terbentuk.

Komunitas yang berharga adalah mereka yang mau menceritakan tentang proyek Anda kepada orang di sekitarnya. Bahkan lebih dari itu, mereka juga mengajak orang lain untuk berbuat hal yang sama. Secara naluri, manusia akan lebih mudah bersimpati kepada sesuatu yang juga disukai dan diceritakan oleh seorang kenalan. Sebuah komunitas yang kuat akan mengajak semua orang di sekitarnya untuk berbuat yang sama, sehingga menjadi sebuah gerakan bukan hanya wacana.

Salah satu contoh lagi yang saya sangat sukai adalah Sanggar Anak Akar. Mereka secara konsisten memberikan pendidikan alternatif untuk anak-anak dari berbagai komunitas urban yang mungkin tidak tersentuh pendidikan formal, atau membutuhkan lebih dari itu. Memberikan mereka sebuah alternatif sehingga tidak hidup di jalanan. Sudah 20 tahun lebih mereka secara konsisten melakukan kegiatan-kegiatan seperti ini. Sepanjang waktu itulah juga mereka terus berkampanye secara gerilya dan membangun komunitas, orang-orang yang percaya akan misi mereka dan tergerak untuk membantu.

Setiap kali Sanggar Anak Akar akan membuat sebuah acara besar, tentu dibutuhkan sumber daya di luar kegiatan operasional biasa. Saat-saat inilah terlihat betapa hebatnya kekuatan komunitas mereka. Berbagai sumbangan, baik berupa tenaga, barang ataupun uang diberikan oleh komunitas ini. Sehingga beberapa kali sudah mengadakan pergelaran yang berskala cukup besar. Dan semua ini dilakukan tanpa pernah menerima dana bantuan pemerintah. Hal ini juga menjadi pembelajaran bagi lembaga-lembaga serupa yang menggantungkan kegiatannya pada dana hibah dari budget pemerintah, bahwa apabila sebuah komunitas yang percaya sudah terbentuk, segalanya menjadi mungkin.

Kedua contoh di atas mungkin kelihatan berbeda. Komunitas Sanggar Anak Akar terbentuk secara offline, karena memang kegiatan sudah dilakukan sejak jaman internet belum merakyat. Sementara Epic Java benar-benar menggalang komunitasnya secara online melalui forum Kaskus. Tetapi kita bisa mengambil pelajaran yang sama: bahwa membentuk sebuah komunitas tidak bisa dilakukan secara instan. Membentuk komunitas bukan hanya pada saat membutuhkan sumber daya, tetapi jauh sebelum itu dengan mencari orang yang peduli akan karya kita. Apabila komunitas terbentuk dengan benar, maka akan mendapatkan hubungan yang kuat bukan sekedar simpati dari orang asing. Dengan hubungan yang kuat ini, penggalangan sumber daya menjadi sangat terbantu.

Mari kita tunjukkan karya kita dan membangun hubungan dengan komunitas, mereka yang peduli dengan cerita kita.