Author: Mandy Marahimin

A working mom. Loves good conversations. Wishes she were a hippie. Have more faith in hard work than talent.

Catatan-catatan dari Crowdfunding Asia 2014

Crowdfunding Asia, konferensi pertama di Asia yang khusus membahas crowdfunding, telah dilangsungkan tanggal 4 dan 5 Agustus 2014 lalu. Bertema “Crowdfunding is A Game Changer”, konferensi ini ingin menggugah kita semua untuk menyadari efek revolusioner yang akan dihadirkan oleh crowdfunding. Ada begitu banyak hal yang dibicarakan dalam konferensi dua hari ini, mulai dari hal-hal dasar seperti apa itu crowdfunding dan apa saja jenis-jenisnya, sampai hal yang cukup mendalam mengenai peraturan perundangan, cara kampanye efektif, ekosistem, infrastruktur dan lain-lain. Selain itu, muncul juga presentasi dari para Kreator yang telah sukses menggalang dana hingga jutaan dolar melalui crowdfunding.

Secara keseluruhan, konferensi ini memang lebih ditujukan kepada penyelenggara platform dan pemerintah. Topik-topik yang dibahas lebih berat kepada bagaimana menghidupkan ekosistem yang baik agar crowdfunding bisa beroperasi dengan baik, dalam konteks equity crowdfunding (crowdfunding yang bersifat investasi, bukan donasi). Walaupun demikian, ada poin-poin menarik yang menurut saya bisa membantu kreator dan pewujud di Wujudkan.com. Berikut adalah catatan saya.

 

Crowdfunding Itu Bukan Hal Baru

1.

Pada prinsipnya, crowdfunding sendiri bukan hal baru di seluruh dunia. Sejak dulu, 38% bisnis/produk mendapatkan modal melalui dana yang dikumpulkan dari teman dan keluarga. Di Indonesia sendiri kita banyak melihat contoh ini dalam bentuk budaya gotong royong. Namun apa yang menjadikan crowdfunding luar biasa adalah ketika yang memberikan dana bukan hanya orang yang kita kenal (friends), atau orang yang mengenal orang yang kita kenal (friends of friends). Yang membuat crowdfunding revolusioner adalah ketika difasilitasi internet dan membuat orang yang tidak kita kenal bisa ikut memberikan dana kepada kreasi kita.

2.

Berdasarkan data dari rata-rata kampanye crowdfunding, 30% dana datang dari teman, 30% datang dari temannya teman, baru sisanya datang dari orang yang tidak kita kenal. Dan biasanya, donasi dari tipe pewujud yang berbeda ini juga datang dalam urutan tertentu. Donasi yang datang di awal masa kampanye datang dari teman kita, baru kemudian datang dari temannya teman kita, dan terakhir orang yang tidak kenal dengan kita.

 

Crowdfunding Itu Lebih Transparan

3.

Hal paling utama dari crowdfunding adalah trust, kepercayaan. Semua orang yang terlibat harus selalu terbuka, dan siap di-“audit” kapan saja. Sifat crowdfunding yang menyebarkan informasinya melalui internet justru menguatkan hal ini. Karena penyebarannya melalui internet, justru berarti kita semua harus berusaha lebih keras untuk membangun trust. Caranya dengan memberikan transparansi tentang siapa diri kita, apa yang ingin kita buat, dan juga transparansi selama proses pembuatan kreasi.

4.

Dengan crowdfunding kita juga diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap keputusan sendiri. Kreator bisa mandiri dan berkarya dengan bebas tanpa merasa “disetir” oleh investor. Namun ini juga berarti apapun hasil dari produk yang dibuat, menjadi 100% tanggung jawab dari si kreator. Hal ini juga berlaku kepada Pewujud. Memberikan dana melalui crowdfunding berarti tiap Pewujud tahu pasti ke mana uang yang diberikan akan disalurkan. Berbeda dengan sistem donasi yang uangnya dikelola oleh organisasi amal, yang memutuskan ke mana uang tersebut disalurkan setelah uang terkumpul.

5.

Di banyak negara, crowdfunding equity sering dicurigai menjadi alat bagi penipu mengumpulkan uang atau bahkan sebagai alamat pencucian uang. Tapi setelah sekian tahun berjalan, terbukti kasus yang terjadi tidak ada. Sifat crowdfunding yang menjunjung transparansi membuat kampanye crowdfunding harus melakukan banyak hal agar berhasil menggalang dana: data yang jelas mengenai apa yang ingin dibuat, perincian budgetnya, biografi kreator, video yang baik, foto-foto yang baik, dan seterusnya. Belum lagi waktu yang harus dicurahkan untuk menjalankan kampanye yang harus full time. Ada lebih banyak cara menipu yang lebih mudah dengan hasil lebih besar daripada harus mengadakan kampanye crowdfunding.

 

Crowdfunding Itu Kolaborasi

6.

Menurut para kreator yang telah berhasil menggalang dana dari crowdfunding, kunci keberhasilan dari crowdfunding adalah kolaborasi yang baik antara anggota tim kreator itu sendiri, kolaborasi yang baik antara kreator dengan crowdfunding platform, dan kolaborasi yang baik antara kreator dengan pewujudnya. Pada akhirnya, crowdfunding tetaplah sebuah cabang dari crowdsourcing, yang menitikberatkan kepada kolaborasi.

7. 

Tips dari kreator yang telah berhasil menggalang dana lewat crowdfunding:

  • Risetlah terlebih dahulu. Kenali siapa target market kreasi kamu. Cari tahu apakah kreasimu telah cukup menarik untuk mereka.
  • Buat “story” yang menarik. Jelaskan dengan transparan kenapa kamu mau membuat kreasi kamu. Perkenalkan diri kamu. Buat video yang menarik, tampilkan diri kamu di sana.
  • Jujurlah selalu. Jangan lupa semangat kolaborasi. Pewujud kreasimu adalah temanmu, walau kamu tentu sudah mengenalnya.
  • Kumpulkan tim kampanye yang bisa membantu selama masa penggalangan dana
  • Buat penjadwalan kampanye media sosial yang engaging dan berkesinambungan. Kampanye harus berjalan selama masa kampanye (tidak bolong-bolong harinya), dan setiap saat. Buatlah perencanaan topik agar tidak membosankan dan terkesan spam.
  • Menggunakan platform crowdfunding lebih menguntungkan daripada membuatnya sendiri, karena ada banyak detil teknis yang sudah ditangani platform. Selain itu, menggunakan platform yang kredibel akan meningkatkan kredibilitas kreasi kamu.
  • Berikan penghargaan kepada pewujud kreasi kamu yang bisa membuat mereka merasa dihargai sebagai bagian dari kreasi kamu, dam bukan hanya sekedar memberikan barang. Beri sentuhan personal agar mereka merasa spesial.
  • Setelah berhasil mengumpulkan uang, teruslah memberikan update pembuatan kreasi kamu. Jangan sampai kehilangan kepercayaan yang telah mereka berikan.
Advertisements

Mencari Dasar Hukum Crowdfunding Indonesia

Pada tanggal 21 dan 22 Juli lalu, Wujudkan.com turut aktif sebagai narasumber dari Focus Group Discussion (FGD) bertema “Penyelenggaraan Crowdfunding di Indonesia” yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Turut hadir di acara itu berbagai pemangku kepentingan seperti penyelenggara platform, kreator, OJK, dan Bank.

FGD ini dimulai dengan presentasi mengenai kondisi crowdfunding di negara-negara lain di Asia, yang dilakukan oleh Miss Ho Sing Kwek sebagai founder dari Crowdfunding Asia, konferensi crowdfunding Asia yang pertama. Lalu dilanjutkan dengan presentasi dari tiap pemangku kepentingan yang hadir, dengan Wujudkan.com sebagai wakil dari penyelenggara crowdfunding platform. Di akhir FGD, disepakati bahwa diskusi ini masih perlu diteruskan untuk menentukan dasar hukum pelaksanaan crowdfunding, terutama untuk equity-based crowdfunding.

Sebagai respon dari langkah positif yang telah dilakukan oleh Kemenparekraf ini, salah satu founder Wujudkan.com yang juga seorang praktisi hukum, Zaki Jaihutan, memberikan pandangannya mengenai dasar hukum pelaksanaan crowdfunding di Indonesia. (Mandy Marahimin)

Dasar Hukum Crowdfunding di Indonesia

oleh: Zaki Jaihutan

 

dasar hukum crowdfunding

Banyak di antara kita yang bingung, sebenarnya dasar hukum aktivitas Crowdfunding di Indonesia ini apa ya? Bahkan, ada kerancuan seolah-olah kalau namanya Crowdfunding, itu pasti jadi urusannya Otoritas Jasa Keuangan atau OJK. OJK memang terkenal sebagai pengawas lembaga keuangan seperti perbankan. Mudah-mudahan penjelasan berikut bisa membuka pemahaman kita.

 

Crowdfunding dan Investasi 

Sebelumnya mari kita telaah dulu, Crowdfunding ini sebenarnya apa. Istilah Crowdfunding ini dipergunakan untuk merujuk pada aktivitas pengumpulan dana dari masyarakat umum, biasanya melalui media internet (lihat definisi Crowdfunding pada Oxford Dictionary Definition of Crowdfunding). Ada beberapa definisi lain yang kurang lebih sama, tapi secara keseluruhan, aktivitas Crowdfunding ini merujuk pada aktivitas pengumpulan dana melalui internet.

Kalau melihat praktik Crowdfunding pada umumnya, Crowdfunding bisa dibedakan menjadi:

Reward-base,

Biasa dipakai untuk kreasi budaya seperti pembuatan film, teater atau pembuatan sistem software dll. Dalam sistem ini, masyarakat pendana (Pewujud) tidak akan memperoleh hasil investasi berupa keuntungan finansial. Mereka akan mendapat akses pada produk yang dibuat, seperti mungkin tiket gratis untuk pertunjukan perdana dari film yang dibuat. Jadi sistem ini terasa lebih bernuansa sosial dan lebih seperti sumbangan (meski dengan iming-iming hadiah tertentu).

Equity-base,

Nah, kalau ini lebih bersifat investasi (ada keuntungan finansial yang bisa diharapkan), dan memang biasanya lebih banyak dipakai untuk proyek bisnis. Pewujud akan diberikan semacam saham, atau jatah dari keuntungan proyek, sesuai dana yang dimasukkan.

Credit-base atau lending,

Ini juga memiliki sifat investasi. Bedanya dengan equity base, lending memberi pinjaman bagi proyek-proyek atau bisnis tertentu. Jadi, Pewujud nanti memutuskan untuk mengumpulkan uang untuk dipinjamkan kepada pemilik proyek, tentunya nanti dengan keuntungan bunga.

 

Crowdfunding dengan Sifat Investasi 

Kembali ke pertanyaan apa dasar hukum Crowdfunding di Indonesia, mesti dilihat apa aktivitasnya bersifat investasi atau tidak. Nah, ketika aktivitasnya bersifat investasi, sangat mungkin kegiatan tersebut bisa menjadi daerah wewenang OJK, seperti diatur dalam Undang-undang Nomor 21 tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (UU OJK).

Pasal 6 UU OJK menyatakan bahwa OJK memiliki wewenang untuk mengawasi bank, institusi keuangan bukan bank yang mencakup dana pensiun, perusahaan pembiayaan, asuransi, jasa keuangan lainnya dan pasar modal.

Aktivitas investasi seperti equity based crowdfunding, dapat dilihat sebagai aktivitas penawaran umum karena aktivitas itu menawarkan saham, dan penawaran umum seperti ini dapat dianggap bagian dari aktivitas pasar modal (lihat Pasal 1 dari Undang-undang Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal).

 

Crowdfunding yang Tidak Bersifat Investasi

Terus, kalau tidak bersifat investasi?

Untuk setiap pengumpulan dana yang bernuansa sosial, sebenarnya sudah ada Undang-undang Nomor 9 tahun 1961 tentang Pengumpulan Uang atau Barang (UU Pengumpulan Barang).

Pasal 1 Undang-undang Pengumpulan Barang menyatakan bahwa undang-undang ini mengatur setiap setiap usaha mendapatkan uang atau barang untuk pembangunan dalam bidang kesejahteraan sosial, mental/agama/kerokhanian, kejasmanian dan bidang kebudayaan.” Pasal 2 dan Pasal 3 dari undang-undang ini menyatakan bahwa kegiatan pengumpulan uang atau barang tersebut harus mendapat izin dari instansi yang berwenang, dalam hal ini Menteri Kesejahteraan Sosial kalau pengumpulan itu dilakukan di seluruh wilayah Indonesia, Gubernur untuk daerah tingkat I (atau provinsi) dan Bupati atau Walikota untuk daerah tingkat II.

Jadi, Crowdfunding dengan reward base harus meminta izin Menteri Sosial, atau Gubernur ataupun Walikota? Belum tentu. Pasal 2 ayat (2) menyatakan bahwa pengumpulan uang atau barang yang dilakukan di lingkungan terbatas, tidak memerlukan izin. Pengertian lingkungan terbatas di sini bisa mencakup lingkungan geografis dan golongan kemasyarakatan, atau contoh lingkungan terbatas lainnya sekolah, kantor, desa, hadirin dalam suatu pertemuan, anggota-anggota suatu badan, perkumpulan dan lain-lain (lihat bagian penjelasan dari Pasal 2 ayat (2) UU Pengumpulan Barang).

Crowdfunding melalui internet pada umumnya akan meminta calon Pewujud-nya untuk mendaftar pada situs Crowdfunding yang bersangkutan, dan dengan sendirinya calon Pewujud menjadi anggota. Artinya sistem keanggotaan Crowdfunding dapat dilihat sebagai suatu “perkumpulan”, dan karenanya dapat dianggap sebagai suatu lingkungan terbatas.

Dengan memperhatikan hal di atas, masih terdapat ketidakjelasan apakah memang Undang-undang Pengumpulan Barang bisa begitu saja diterapkan pada Crowdfunding dengan reward base. Kita harus ingat juga bahwa Undang-undang Pengumpulan Barang merupakan ketentuan lama yang tidak siap mengakomodir perkembangan seperti Crowdfunding, sehingga mungkin banyak ketentuan di dalamnya yang tidak sesuai.

 

Kesimpulan 

Dengan melihat penjelasan singkat di atas, aktivitas Crowdfunding memang belum memiliki pengaturan tersendiri di Indonesia, dan harus dilihat bagaimana persisnya setiap aktivitas itu dijalankan untuk menentukan apa ketentuan yang berlaku bagi aktivitas tersebut. Di atas telah disebutkan contoh bahwa aktivitas Crowdfunding dimana terdapat unsur penawaran saham seperti Equity Based Crowdfundingi dapat dilihat sebagai aktivitas pasar modal, dan jatuh dalam pengawasan OJK.

Akan tetapi untuk Reward based Crowdfunding, masih terdapat ketidakjelasan hukum. UU Pengumpulan Barang mungkin dapat diberlakukan jika Crowdfunding tersebut tidak mewajibkan keanggotaan, dan hal seperti ini mungkin langka. Itupun belum tentu perijinan yang diwajibkan sudah tersedia, mengingat barunya bentuk Crowdfunding ini.

Dengan adanya “kekurangan” hukum ini, tidak mudah untuk menentukan apa dasar hukum dari sebuah aktivitas Crowdfunding. Secara umum saja, hubungan hukum antara Pewujud dengan Kreator mungkin akan dilihat berdasarkan hukum perdata atau pidana biasa. Misalkan jika Kreator berbohong dan secara sengaja melarikan uang Pewujud tanpa menyelesaikan kreasi, dia dapat dituntut pidana penipuan. Atau jika ada perjanjian antara Pewujud dengan Kreator, maka Kreator bisa dituntut secara perdata karena ingkar janji.


Crowdfunding memang suatu penemuan yang unik. Bahkan di negara-negara dimana praktik Crowdfunding ini telah marak, pengaturan hukumnya masih sangat kurang. Perkembangannya betul-betul bergantung pada dinamika kepercayaan masyarakat pada kaum kreatif-nya yang meminta dana untuk kreasi mereka. Mudah-mudahan dengan semakin berkembangnya industri kreatif di Indonesia, pengaturan hukum Crowdfunding ini dipertegas, dan Crowdfunding dapat menjadi alternatif utama bagi para Kreator untuk mewujudkan kreasi mereka.

Kunci Keberhasilan Crowdfunding: Reward Yang Menarik

 

Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan kampanye crowdfunding kamu tidak berhasil. Bisa jadi karena salah menentukan target dana (terlalu tinggi), bisa jadi karena halaman informasi kreasi yang tidak menarik (tidak ada gambar yang menarik, tidak jelas apa yang ingin dibuat), tapi salah satu faktor yang juga sangat penting adalah: reward yang ditawarkan tidak menarik.

Berdasarkan pengamatan kami atas kampanye-kampanye crowdfunding yang pernah dilakukan, inilah tiga karakteristik dari reward yang menarik.

1. Reward yang menarik adalah reward yang berhubungan dengan kreasi yang dibuat.

Kalau kreasi kamu adalah sebuah film, maka apa daya tarik utama dari kreasi kamu? Ya tentunya film itu sendiri, dong. Jadi, kalau kamu justru tidak menawarkan reward agar pewujud dapat menyaksikan atau memiliki film tersebut, kampanye kamu jadi tidak menarik. Ini berlaku untuk semua jenis kreasi.

Selain memberikan reward kreasinya itu sendiri, memberikan merchandise juga reward yang menarik. Tapi merchandise ini harus berhubungan dengan kreasinya. Contohnya, kalau kamu ingin membuat sebuah game zombie, namun kamu menawarkan reward stiker hello kitty, tentunya ini tidak berhubungan dan jadi tidak menarik. Penggemar Hello Kitty tidak akan membaca informasi kreasi tentang zombie, dan penggemar zombie tidak akan tertarik kepada Hello Kitty.

Crowdfunding adalah kolaborasi. Calon pewujud tertarik kepada kreasi kamu karena kreasi itu sendiri. Jadi, berikanlah reward dalam bentuk akses kepada kreasi kamu, baik dalam bentuk produk akhir dari kreasi itu sendiri, atau dalam bentuk merchandise.

2. Reward yang menarik adalah reward yang memberikan penghargaan khusus kepada pewujud.

Bukan, maksudnya bukan kamu harus memberikan piala. Tapi libatkanlah pewujud dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kreasi kamu. Buat mereka merasa spesial. Misalnya, kreasi kamu adalah sebuah album musik, maka kamu bisa memberikan reward mengundang mereka saat penampilan perdana kamu. Atau kamu bisa menawarkan konser privat di rumah mereka.

Keuntungan dari reward semacam ini adalah kamu tidak mengeluarkan biaya yang besar karena tidak perlu memproduksi barang, tapi pewujud merasa lebih dihargai. Reward semacam ini membuat mereka merasa kau merangkul mereka sebagi bagian dari kreasi kamu. Reward semacam ini justru menjadi satu hal yang tidak terbeli.

3. Reward yang menarik adalah reward yang kreatif.

Semakin kreatif reward yang kamu buat, semakin menarik kampanye kreasi kamu. Coba deh melihat-lihat kampanye crowdfunding lain yang sedang berjalan, yang bentuk kreasinya sama dengan kamu. Pelajari reward apa yang mereka tawarkan, dan coba berikan reward yang lebih kreatif lagi.

 

Ada banyak contoh reward yang kreatif yang pernah dibuat. Dalam post berikutnya, saya akan bercerita jenis-jenis reward yang menurut saya sangat kreatif dan menarik. Kalau teman-teman ada ide reward yang kreatif, silahkan tuliskan komen di bawah ini. Atau mungkin teman-teman pewujud ada keinginan reward tertentu? Yuk dituliskan saja.

Kenapa Crowdfunding Bisa Berhasil?

WJD

Tulisan ini tidak ingin memberikan tips-tips bagaimana membuat kampanye kamu berhasil. Hal itu lebih baik saya jelaskan melalui tulisan yang berbeda. Tapi tulisan ini ingin mengutip hasil beberapa penelitian, yang menjelaskan apa saja dinamika sosial yang terjadi, yang membuat sebuah kampanye crowdfunding bisa berjalan baik. Apa yang saya tuliskan di sini berdasarkan beberapa artikel, buku dan penelitian yang telah saya baca sejauh ini. Itulah sebabnya tulisan ini tidak bersifat “mati”. Di kemudian hari mungkin muncul artikel baru, buku baru, bahkan teori baru mengenai hal ini.

Ada beberapa dinamika sosial yang terjadi, yang menentukan apakah sebuah kampanye crowdfunding akan berhasil atau tidak. Dua di antaranya: social proof, dan social ties.

Social Proof, atau disebut juga informal social influence adalah sebuah fenomena psikologis dimana orang melakukan sesuatu berdasarkan bukti apa yang dilakukan orang lain di situasi yang sama. Ketika manusia dihadapkan pada sebuah situasi, maka ia memiliki kecenderungan untuk melakukan apa yang telah dilakukan orang lain. Konsep ini dibahas oleh Robert Cialdini dalam bukunya yang berjudul Influence: The Psychology of Persuasion. Informasi lebih lanjut mengenai buku ini ada di sini.

Dalam tulisan ini disebutkan bahwa kampanye crowdfunding yang telah mencapai 20% targetnya, maka ada kemungkinan 82% kampanyenya akan berhasil. Dan ketika telah mencapai 30%, maka kemungkinan itu menjadi 98%. Itulah sebabnya, tulisan yang sama menyarankan setiap kampanye crowdfunding sebaiknya mengumpulkan komitmen donasi sampai 25-30% SEBELUM meluncurkan kampanye crowdfunding-nya.

Social Ties yang saya maksudkan di sini mengacu kepada hasil penelitan Ethan Mollick terhadap sekitar 55.000 kampanye crowdfunding, baik yang berhasil mencapai target dananya, maupun yang gagal. Berdasarkan penelitian yang ia lakukan pada bulan Juli 2012, ia menemukan bahwa facebook memainkan peranan penting dalam kesuksesan sebuah kampanye crowdfunding. Ia menemukan, bahwa facebook menjadi media sosial utama, dimana:

If the project sponsor has 10 friends: 9% likelihood. If 100: 20%. If 1000: 40%

Apa yang dimaksud sebagai project sponsor di sini adalah para donatur dari kampanye tersebut. Mollick menemukan bahwa semakin banyak jumlah teman yang dimiliki oleh si donatur di media sosialnya, semakin besar kemungkinan bagi kampanye tersebut untuk berhasil. Ini tentunya dengan asumsi donatur-donatur tersebut lalu menyebarkan berita bahwa mereka berdonasi untuk sebuah proyek crowdfunding di media sosialnya. Mau baca hasil penelitiannya? Silahkan baca di sini.

Ada satu dinamika sosial lainnya yang juga menarik untuk kita pelajari, untuk lebih memahami kenapa ada kampanye crowdfunding yang berhasil dan ada yang tidak. Salah satunya adalah konsep yang ditemukan oleh Mark Granovetter, namun lalu dipopulerkan oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya yang terkenal: The Tipping Point.

Itulah beberapa dinamika sosial yang ditemukan terjadi dalam sebuah kampanye crowdfunding. Jika ada beberapa update terhadap hasil penelitian yang saya cantumkan di atas, mohon koreksinya ya. 🙂

Nah, jadi kita sudah tahu langkah pertama sebelum crowdfundingbagaimana menemukan crowd kita, dan kita sudah tahu dinamika sosial apa saja yang terjadi. Dengan informasi ini, kita bisa menyiapkan rencana yang lebih detail tentang bagaimana melakukan kampanye crowdfunding kita. Nanti ini akan saya ceritakan di tulisan berikutnya ya. 🙂

Temukan Crowd-mu

Sebelum memulai kampanye crowdfunding, kita harus tahu dulu kepada siapa kampanye ini akan ditujukan. Jangan pernah berpikir bahwa kampanye harus dilakukan ke semua orang, karena kampanye yg ditujukan ke semua orang menjadi tidak fokus. Semakin luas target marketnya, semakin besar biaya kampanye yang harus dilakukan. Bahkan brand-brand besar saja punya target market spesifik, kok. Tidak mungkin mereka pasang iklan di semua media setiap saat, karena budget yg dikeluarkan menjadi tidak efektif. Nah, kita harus menerapkan prinsip yang sama. Tapi, karena budget kampanye kita jauh lebih kecil dari mereka, bahkan mungkin nyaris tidak ada budget sama sekali, kita harus lebih jeli dalam mencari dan mendekati crowd kita.


Early Adopter dan Evangelist

Dalam pembuatan sebuah startup, kita mengenal istilah early adopter dan evangelist. Early adopter adalah sekelompok orang yang menjadi pengguna pertama produk/jasa kita. Evangelist adalah sebagian orang yang senang dengan produk/jasa kita dan menyebarkannya ke teman-temannya. Penting sekali untuk sebuah startup menemukan early adopter dan evangelist, karena startup memiliki keterbatasan sumber daya. Dengan menemukan siapa early adopter mereka, sumber daya yang terbatas itu bisa difokuskan hanya kepada sekelompok kecil ini, sehingga kemungkinan mereka untuk menjadi evangelist lebih besar. Ketika kita sudah memiliki evangelist, kita menjadi terbantu dalam hal promosi, tanpa perlu keluar biaya. Oke kan?

Kita bisa menggunakan konsep ini untuk kampanye crowdfunding kita. Sebelum kampanye dimulai, carilah dulu kelompok yang kira-kira akan jadi early adopter kita. Tidak ada cara yang mudah untuk melakukannya. Kita harus keliling ke forum-forum, milis, bahkan mungkin kopi darat komunitas. Cari yang menurut kamu akan suka dengan kreasi yang akan kamu buat. Coba ceritakan tentang kreasi kamu, dan sampaikan kalau kamu berniat melakukan crowdfunding untuk menggalang dana. Ceritakan juga reward apa yang akan kamu siapkan. Minta feedback dari mereka, terutama untuk reward macam apa yang mereka inginkan. Ketika kamu menemukan orang-orang tertentu yang tampak bersemangat, banyak memberi feedback, atau bahkan telah bertanya kapan kampanye kamu dimulai, itu artinya kamu telah menemukan early adopter kamu. Setelah bertemu beberapa orang yang seperti ini, coba amati apa persamaan di antara mereka. Nah, persamaan di antara mereka inilah karakteristik dari early adopter kamu.

Mengubah Early Adopters menjadi Crowd

Mungkin teman-teman saat ini sedang bertanya-tanya, bagaimana caranya dari early adopter yang cuma sekelompok orang saja, bisa menjadi crowd berjumlah besar, cukup besar untuk mencapai target budget kita? Jawabannya ada di sebuah penelitian mengenai dinamika sosial yang terjadi dalam sebuah kampanye fundraising. Hal ini akan saya ceritakan di posting berikutnya.

Langkah Pertama sebelum Crowdfunding

Apa sih yang membuat sebuah kampanye crowdfunding sukes menggalang dana, sementara banyak kampanye lainnya gagal? Apa faktor penentunya?

Ada banyak banget hal yang menentukan apakah kampanye crowdfunding kamu akan berhasil atau tidak. Melalui serial tulisan ini, faktor-faktor pendukung kesuksesan crowdfunding akan kita bahas satu-satu.

Mari kita mulai dengan langkah pertama. Hal pertama yang harus kamu pahami adalah: MENCARI.

Istilah crowdfunding terdiri dari dua kata: crowd dan funding. Dan bukan kebetulan kalau kata “crowd” muncul sebelum kata “funding”. Artinya, untuk mendapat “funding”, kamu harus tahu dulu “crowd”nya siapa. Inilah langkah pertama kamu.

Jadi, yuk coba mulai dirumuskan…siapa sih sebenarnya “crowd” dari kreasi kamu? Siapa yang akan suka dengan kreasi kamu ini? Karakter mereka seperti apa? Kira-kira gimana ya cara mengidentifikasi mereka? Apakah mereka pengguna twitter? Atau mereka facebook-an aja? Atau jangan-jangan mereka tipe yang anti social media? Apakah ada forum tertentu tempat mereka berkumpul? Dan seterusnya.

 

silhouettes

 

Penting sekali bagi tiap kreator memahami siapa yang akan menyukai kreasi mereka. Siapa “crowd” mereka. Karena dari pengetahuan ini, banyak hal menjadi lebih mudah. Kamu jadi tahu bagaimana cara menuliskan ide kreasi kamu supaya menarik bagi mereka. Kamu tahu persis reward seperti apa yang mereka inginkan. Dan yang paling penting: kamu tahu harus berkampanye melalui media apa.

Apakah kamu telah mengenal siapa “crowd” kamu?

Di tulisan berikutnya, kita akan membahas bagaimana caranya mengenali siapa “crowd” kamu. 🙂