eko wustuk

Strategi Offline untuk Kampanye Online ala Kreator Rock Memberontak

“Keyakinan saya bahwa masih banyak tangan-tangan yang peduli pada kreasi sepenuh hati kembali terbukti benar”

Itulah testimoni Eko “Wustuk” Prabowo yang kembali sukses ngeluarin karya keduanya dengan bantuan Wujudkan.com, yaitu buku Rock Memberontak. Sebelumnya di tahun 2014, lelaki yang sering disapa Wustuk ini merilis buku Saya Ada di Sana! Catatan Pinggiran Grunge Lokal. Di kreasi keduanya, ia juga mengulang sukses dengan mengumpulkan dana yang melampaui target, lho! Dari target 20.000.000 yang harus dikumpulkan selama (2 Sep – 6 Nov ’15) ia berhasil ngumpulin dan Rp 21.855.000!

Dari segi cerita, buku yang terbit pada 28 November 2015 lalu ini berbeda dari  buku sebelumnya yang nyeritain tetang musik grunge lokal dari sisi fans. Kali ini, ia lebih mengulik proses kreatif dua pentolan band grunge Indonesia yaitu Robi “Navicula” dan Che “Cupumanik”. Lewat hasil wawancara keduanya, Wustuk berhasil menuliskan bagaimana sebuah lagu tercipta. Mulai dari pencarian inspirasi, cara nulis hingga proses produksi.

Dari segi crowdfunding, keduanya sih dapat dibilang nggak beda jauh. Tapi, yang menarik adalah bentuk Penghargaan. Dari tiga Penghargaan, satu di antaranya berupa event offline dengan judul “Wujudkankustik”. Diadain pada 20 Oktober lalu di Paviliun 28, Pewujud datang langsung untuk donasi langsung mulai dari Rp 100.000. Sebagai Penghargaannya, para pewujud nantinya akan mendapatkan satu kopi buku Rock Memberontak bertanda tangan penulis, plus dua narasumber. Nggak hanya itu, Pewujud juga mendapatkan satu tiket konser peluncuran buku dan first drink!

Kampanya offline seperti ini menurut Wustuk harus diperbanyak. “Publik Indonesia tidak terlalu suka (percaya) pada mekanisme penggalangan dana online. Mereka tetap harus bertatap muka, “ katanya lewat wawancara via e-mail. Bisa jadi masukan yang oke buat kamu para kreator, nih!

Namun begitu, untuk para kreator seperti Wustuk, crowdfunding adalah cara untuk menekan budget produksi. Apalagi, salah satu tujuannya untuk membuat banyak orang mengakses buku ini. Jadi, hasil donasi benar-benar diperuntukkan bagi pembiayaan produksi aja.

Setelah dua kali berhasil mewujudkan kreasinya lewat Wujudkan. Menurut Wustuk, ide aja nggak cukup untuk bikin orang membantu sebuat kreasi. “Bangun juga kredibilitas dengan berbagai cara. Yang terpenting jangan jadikan crowdfunding sebagai alasan “go or no go”. Kalaupun nanti gagal, itu bukan alasan berhenti berkreasi,”.

 

 

 

 

Advertisements

Belajar dari Kegagalan Kampanye Crowdfunding

Jika kamu ngerasa mendanai karya lewat crowdfunding adalah semudah membalik telapak tangan, kamu harus berpikir ulang. Soalnya, nggak semudah itu mendatangkan dukungan.  Salah satu situs crowdfunding cukup terkenal dari Amerika Serikat aja, angka kreasi yang tidak sukses 36% lebih banyak dibanding yang sukses. Malah, 14% tidak mendapatkan dana sama sekali.

Tapi tenang, jangan kecil hati dulu untuk mulai kreasi lewat crowdfunding. Kamu masih bisa belajar dari kegagalan mereka. Just keep reading!

Kurang Kredibel

Menurut Scott Steinberg, penulis buku The Crowdfunding Bible, inilah kegagalan yang sering ditemui para kreator. Karena orang nggak kenal siapa kreatornya, maka biasanya orang nggak percaya dengan karya yang dibuat. Tapi tenang, kamu bisa menuliskan profil lengkap kamu di halaman profil kreator dan kolom deskripsi Wujudkan seperti sebuah CV. Tuliskan juga orang-orang di balik layar kreasi kamu , mulai dari skill, dan prestasi apa saja yang pernah dicapai.

Target Ketinggian

Memang sulit menentukan target dana yang fix untuk sebuah kreasi. Kreasi film dan buku atau acara pasti beda dana yang dibutuhkan. Selain menghitung budget yang dibutuhkan untuk membuat kreasi, kamu juga perlu riset dulu target dari kreasi kamu. Kalau nggak sesuai, bisa jadi target kamu sulit dicapai. Menurut artikel dari Entrepreneur, buatlah target dana serendah yang bisa kamu kelola.

Nggak Jelas, Jadi Melas

Biarkan hubungan kamu aja yang nggak jelas (eh?). Jangan sampai merambah ke kreasi kamu. Soalnya, banyak kreator yang gagal adalah karena mereka tidak menyampaikan idenya dengan jelas dan baik. Salah satu hal yang harus ditonjolkan adalah sisi unik yang membedakan kreasi kamu dari kreasi lainya. Coba deh tampilkan ini setiap kamu kampanye ke orang-orang dan tentunya situs Wujudkan.

Kurang Awareness, Jadi Ngenes

Gimana orang mau bantu kamu kalau nggak tahu tentang kampanye penggalangan dana yang sedang kamu lakukan? Apalagi masyarakat kita belum banyak yang mengerti tentang crowdfunding. Maka dari itu, rajin-rajinlah ngasih tahu ke kerabat, handai taulan, keluarga, followers twitter, sampai bekas gebetan, kalau kamu lagi buat kreasi dan butuh dukungan. Kamu bisa contek cara dari Eko Wustuk, kreator buku #RockMemberontak dan #BukuGrungeLokal,  yang buat offline event dan rajin nge-share di sosial media.

Gimana, udah belajar banyak dari kegagalan di atas? Semoga dari situ bisa diambil hikmahnya untuk membuat kreasi lagi, ya! Semangat!